Dec 22 2010

Pengalaman mempersiapkan diri menghadapi tes TOEFL dan IELTS

Published by Heri Sutanta under Academic Life

Semua beasiswa, dalam dan luar negeri, saat ini mensyaratkan kemampuan berbahasa Inggris yang dinyatakan dengan nilai TOEFL atau IELTS. Tidak ada yang tidak butuh TOEFL. Bahkan sekarang ada persyaratan baru, untuk lulus S1 pun harus mampu menunjukkan bukti telah mencapai nilai TOEFL tertentu. Di UGM sendiri, calon mahasiswa baru yang lulus seleksi UM-UGM harus mengikuti tes TOEFL saat teman-teman yang belum diterima sedang mengikuti tes masuk nasional. Apa yang akan saya ceritakan berikut adalah pengalaman pribadi mempersiapkan diri menghadapi tes TOEFL dan IELTS. Mungkin tidak seperti yang dianjurkan oleh pengajar bahasa Inggris untuk penutur yang bukan asli…, tetapi paling tidak bisa sebagai gambaran.

Saya sendiri belum pernah kursus intensif bahasa Inggris, jadi hanya belajar secara otodidak saja. Saat SMA, pernah ikut kursus bahasa Inggris beberapa kali pertemuan, karena kebetulan dapat voucher kursus gratis. Nama lembaga kursusnya saya tidak ingat persis, mungkin NEC (bukan merk komputer).

Saya harus memiliki sertifikat TOEFL pertama kali adalah untuk melamar jadi dosen Geodesi UGM, tahun 1999. Baru pertama kali itulah disyaratkan adanya sertifikat TOEFL dalam penerimaan dosen di tempat saya bekerja sekarang. Untuk mendapatkan skor yang baik (paling minim 500 dalam pandangan saya), maka saya mencoba latihan sendiri di kost. Pada saat itu TOEFL yang digunakan minus speaking test, jadi hanya mengetes kemampuan bahasa Inggris pasif. Oleh karena itu, belajarnya ya cukup dengan membaca buku dan latihan soal saja. Saya beli buku latihan TOEFL dan pinjam buku latihan TOEFL dari teman saya, Budi Harto.

Saya buat semacam lembar jawaban sendiri untuk 8 latihan tes TOEFL yang ada di buku tersebut. Kemudian saya mengerjakan semua jenis tes sendirian di kamar. Waktu untuk mengerjakan saya samakan dengan tes resmi. Kalau saatnya untuk tes listening, saya setel kaset test TOEFL-nya di tape merk Sony yang saya beli 4 tahun sebelumnya. Selesai mengerjakan, saya periksa semua jawaban dan hitung skor yang saya dapat. Untuk setiap soal yang salah, saya lihat penjelasan jawaban yang benar dan kemudian mempelajari lagi di bagian teori. Demikian saya kerjakan berulang-ulang untuk 8 latihan yang tersedia di 2 buku.

Akhirnya, tibalah saatnya untuk mendaftarkan diri di sebuah lembaga kursus bahasa Inggris untuk tes prediksi TOEFL. Saya mendaftar di lembaga kursus yang ada di Jl. Wolter Monginsidi, biayanya kalau tidak 20 ribu ya 25 ribu. Tes-nya sendirian saja, ditinggal di tengah ruangan yang biasa digunakan untuk kursus. Namanya juga lembaga kursus yang bukan terkenal, fasilitasnya ya biasa saja. Sayangnya (untungnya?) materi tes ternyata berbeda dengan yang biasa saya baca..:) Di tengah-tengah mengerjakan tes listening, tiba-tiba dari rumah sebelah tempat kursus, ada suara raungan gas sepeda motor. Ternyata ada yang sedang memperbaiki motor dan menge-gas keras2… terpaksalah saya minta bagian itu diulang… lumayan, dapat tambahan waktu sedikit..:) Tes selesai, dan tinggal menunggu hasilnya. Ternyata tidak mengecewakan, skor yang saya peroleh 527 atau 537 atau 547. Saya tidak ingat persisnya berapa berawalan 5, berakhiran 7, tetapi di bawah 550 dan diatas 517.. Hasil ini saya serahkan ke Jurusan Geodesi sebagai salah satu persyaratan mendaftar dosen. Syarat lainnya adalah melampirkan surat rekomendasi dari minimal 3 dosen (saya lampirkan 7 surat rekomendasi) dan mengikuti psikotes di fakultas psikologi UGM.

Saat kedua kalinya saya membutuhkan skor TOEFL adalah ketika melamar untuk beasiswa STUNED untuk sekolah ke Belanda, tahun 2000. Kali ini sertifikat TOEFL harus berasal dari lembaga resmi yang terakreditasi. Mengingat waktu yang tersedia sangat mepet, sedangkan jadwal tes untuk Institutional TOEFL di PPB UGM sudah terlewat, saya mencoba tanya ke PPB UI. Di UI Salemba, saya harus tanya ke sana kemari untuk bisa menemukan kantornya. Ternyata waktu tes yang di PPB UI juga tidak sesuai dengan jadwal pengajuan dokumen STUNED. Disamping itu, biayanya juga lumayan mahal untuk ukuran saya saat itu, sekitar 350 ribu. Akhirnya saya memutuskan untuk untung-untungan saja mengikuti TOEFL-like tes yang diselenggarakan oleh PPB UGM. Biayanya, kalau tidak salah, 50 ribu. Seperti sebelumnya, saya melatih diri lagi dengan metode yang sama seperti sebelumnya. Menyepi di dalam kamar, mengerjakan latihan-latihan tes TOEFL. Suasana tes jauh berbeda dengan sebelumnya, sangat tenang dan teratur. Sempat grogi juga sebetulnya. Apalagi peserta tes yang lain adalah peserta kursus di PPB UGM, salah satunya senior saya di Geodesi. Hasilnya, sedikit lebih tinggi dari yang disyaratkan, yaitu 557 (minimalnya 550). Walaupun hanya memiliki sertifikat TOEFL-like test, saya nekat mengajukan semua berkas ke Netherlands Education Council. Alhamdulillah diterima. Sertifikat TOEFL ini mungkin diakui karena dikeluarkan oleh PPB UGM, disamping waktu yang mepet untuk mempersiapkan dokumen yang ‘layak’ mengingat saat itu baru pertama kali ada beasiswa STUNED. Sesudah itu, NEC (sekarang NESO) sangat ketat dalam persyaratan bahasa, minimalnya harus Institutional TOEFL tes.

Ketiga kalinya mengikuti tes TOEFL adalah ketika saya melamar beasiswa ke Jepang (yang akhirnya tidak berhasil…). Untuk memenuhi persyaratan beasiswa, skor TOEFL minimal adalah 550 yang dikeluarkan oleh lembaga yang diakui. Tes saya ikuti tahun 2006. Latihan seperti dulu saya kerjakan lagi. Tantangannya, saya sulit untuk menyepi, karena anak sudah 2 ..hehehe…Tetapi bekal saya sudah lebih baik, pernah 16 bulan tinggal di Belanda dan harus berkomunikasi dengan bahasa Inggris di kampus. Saat mengerjakan tesis, sering juga tidak berbahasa Inggris, karena dari 5 orang yang ada di ruangan MSc student, 3 orang dari Indonesia…:). Kalau di apartemen malah lebih banyak menggunakan bahasa Jawa, karena teman-teman di sana banyak yang dari atau pernah kuliah di Yogya….Satu hal yang saya sesali, saya tidak belajar bahasa Belanda atau Spanyol (banyak teman dari Latin America). Dalam hal bahasa Inggris, saya ingat bahwa ketika sudah memulai menulis tesis, saya iseng-iseng melihat lagi tugas-tugas yang saya kumpulkan di masa awal kuliah. Saya kaget, melihat betapa jeleknya bahasa Inggris saya…:-)

Untungnya para dosen sudah terbiasa dengan mahasiswa dari berbagai negara dan berbagai tingkat kemampuan bahasa…Bahkan ada beberapa pertanyaan teman kuliah dari Afrika atau Cina yang saya pahami maksudnya sesudah mendengar jawaban dosennya…”Oohh… itu to pertannyaannya”…

Kembali ke tes TOEFL yang ketiga, mengingat ini adalah Institutional TOEFL, suasana lebih menegangkan. Soal juga masih dalam kertas segel, beda dengan yang TOEFL-like. Dengan rasa percara diri yang lebih tinggi dan sikap nothing to lose, akhirnya selesailah juga tes itu. Alhamdulillah hasilnya sangat memuaskan, lebih tinggi dari yang saya perkirakan. Perkiraan awal, paling saya dapat sekitar 580-an, ternyata bisa lebih baik. Ini adalah skor TOEFL tertinggi saya. Tetapi ternyata saya tidak lolos dalam 2/3 kali melamar beasiswa ke Jepang dan 1 kali ke Amerika…:):)

Walaupun demikian, skor TOEFL ini ternyata berguna sekali ketika melamar beasiswa ADS ke Australia. ADS tidak menggunakan TOEFL, melainkan IELTS. Skor TOEFL hanya bisa digunakan sebagai salah satu syarat dokumen awal saja. Dengar-dengar minimal 500. Saya lolos dalam seleksi dokumen sehingga bisa ikut tes wawancara. Sebagai bagian dari tes wawancara, ada komponen tes IELTS, tertulis dan speaking. Itulah tes IELTS saya yang pertama, sehingga saya belum tahu modelnya. Saya tanya sama teman saya, Andi Arsana, bagaimana caranya mempersiapkan diri. Kebetulan Andi yang sedang di Australia pas pulang ke Yogya, sekalian dengan Ahmad Agus Setiawan. File mp3 untuk materi listening yang saya peroleh dari Andi sangat membantu. Saya copy ke mp3 player, sehingga dalam perjalanan ke kantor dan lainnya saya mendengarkan dan belajar menjawab pertanyaan yang ada dalam percakapan di sana. Awalnya terasa sulit, lama-lama jadi terasa mudah. Telinga saya menjadi semakin terbiasa. Untuk writing test, dari 2 persoalan yang diberikan, saya malah merasa kesulitan di bagian pertama (yang katanya lebih mudah) dan merasa mudah di bagian kedua. Akhirnya, keluar hasil tes wawancara dan skor IELTS. Saya diterima beasiswa ADS dan mendapatkan skor IELTS 6,5 dan tidak ada komponen yang di bawah 6.

Skor ini cukup pas, artinya hanya perlu mengikuti IAP selama 6 minggu di Jakarta, tidak perlu tes IELTS lagi, dan kebetulan School of Engineering, Uni Melbourne juga mensyaratkan IELTS minimal 6,5. Berdasarkan berbagai informasi, untuk menaikkan skor IELTS sebesar 0,5 dibutuhkan waktu kursus 3 bulan.

Dari pengalaman mengikuti tes TEOFL 3 kali dan tes IELTS 1 kali, saya merasakan bahwa latihan dan disiplin dalam belajar adalah hal yang penting. Selanjutnya, membiasakan diri dengan berbagai bentuk tes. Untuk bagian listening, mendengarkan kaset-kaset rekaman TOEFL dan IELTS sangat membantu. Untuk bagian writing, ya harus mau menggerakkan tangan & ballpoint untuk menulis. Dalam tes IELTS resmi, digunakan pensil, sehingga masih bisa melakukan sedikit “undo” alias “Ctrl+Z” kalau dirasa ada kesalahan tulis kecil. Dalam latihan mengerjakan soal, disiplin terhadap waktu adalah penting. Skor rendah di awal adalah biasa.

Dari pengalaman saya, semakin banyak berlatih akan semakin baik. Di samping itu, berada di lingkungan yang berbahasa Inggris akan sangat membantu perkembangan kemampuan mendengar, berbicara dan menulis; bukan sekedar grammar saja.

*disclaimer: ini adalah pengalaman pribadi, setiap orang punya metode belajar yang paling efektif untuk dirinya sendiri …:D

No responses yet

May 04 2010

New Publications

Published by Heri Sutanta under Academic Life

FIG Congress:

  1. Sutanta, H., Rajabifard, Bishop, I. (2010). Impediments in e-Planning in Local Government - Indonesian Case Study
  2. Sutanta, H., Rajabifard, Bishop, I. (2010). Studying Spatial Plan in Coastal Urban Environment - facing global threat and adapting to local conditions.

Chapter Book published by PPIA ACT in commemorating Indonesian Education Day

  1. Sutanta, H., Rajabifard, A., Aditya, T. (2010). Implementing Spatially Enabled Government (SEG) Concepts in Indonesian Local Government - Challenges and Opportunities. in MS Zein (ed.).’Contribution Matters: Insights of Indonesian Students in Australia’

Submitted for peer-review paper, GSDI 12 Conference in Singapore

  1. Sutanta, H., Rajabifard, Bishop, I. (2010). Integrating Spatial Planning and Disaster Risk Reduction at the Local Level in the Context of Spatially Enabled Government

No responses yet

Mar 19 2010

Profesor Mendampingi Praktikum

Published by Heri Sutanta under Academic Life

Biasanya materi praktikum diserahkan pada asisten. Di program S1 di Indonesia biasanya ditangani oleh mahasiswa senior atau dosen baru. Untuk mahasiswa S2 ditangani oleh dosen muda yang  baru selesai S2. Kalau di negara-negara seperti Eropa, Amerika, Australia praktikum mahasiswa S1 dan S2 dipandu oleh atau mahasiswa Pasca Sarjana atau Post Doctoral scientist atau Research Associate. Kondisi berbeda saya temui di ITC (sekarang jadi Faculty di University of Twente) tahun 2001. Saat itu saya mengambil mata kuliah pilihan Advanced Raster Modeling & Fuzzy Analysis in GIS. Pengajar utamanya adalah Prof. Wolfgang Kainz. Salah satu materi kuliah adalah praktek membuat program dengan AML untuk pemilihan lokasi dengan analisis fuzzy.

Di lab komputer, saya dan teman-teman sibuk membuat program, ditunggui oleh Prof. Kainz. Sekali waktu beliau berkeliling melihat apa yang dikerjakan mahasiswa dan memberi petunjuk yang dibutuhkan. Ini adalah hal yang luar biasa yang saya temui saat itu. Saya jadi bertanya, seberapa banyak profesor di negeri tercinta yang masih cinta dengan praktikum mahasiswanya, lebih dari cintanya ke jabatan di birokrasi? Ataukah sedemikian butuhnya birokrasi akan kehadiran para profesor mengisi jabatan-jabatan bergengsi? Pada posisi mana keseimbangan antara dunia akademis & birokrasi berada?

No responses yet

Mar 19 2010

Airborne Laser Scanner

Published by Heri Sutanta under Geo-related topics

Penggunaan Airborne Laser Scanning (ALS) untuk Pengadaan DTM Berketelitian Tinggi, adalah paper pertama saya yang saya tulis sesudah selesai S2 di Belanda. Kemungkinan merupakan paper generasi pertama yang membahas mengenai ALS di Indonesia. Mudah-mudahan tidak salah .. :). Data yang digunakan berasal dari hasil praktikum mata kuliah Spatial Information Extraction from Active Sensor (Laser and Radar). Pada tahun 2001, saat saya mengambil, mata kuliah ini baru pertama kali dibuat dan diberikan. Peserta kuliah hanya 5 orang. Tidak ada absensi, toh pasti akan ketahuan siapa yang tidak hadir. Di Geodesi UGM, sejak tahun 2007, sudah ada mata kuliah sejenis dengan nama Penginderaan Jauh Sensor Aktif. Isi mata kuliah adalah ekstraksi informasi geometric properties dari radar dan ALS. ALS juga dikenal sebagai Airborne LIDAR. Walaupun turut membidani dan mendorong mata kuliah ini, saya sendiri belum pernah terlibat mengajar, karena konsentrasi yang kemudian berbeda.

Paper tentang ALS ini sudah dipublikasikan di Prosiding FIT ISI 2002. FIT ISI 2002 diselenggarakan di Yogyakarta, bersamaan dengan Kongres ISI. Saat itu saya mendapat amanah sebagai Koordinator Seminar Nasional, termasuk bertanggung jawab dalam penerbitan prosidingnya.

Paper bisa diambil di sini. Selamat membaca, semoga bermanfaat.

No responses yet

Mar 19 2010

Traffic Jam

Published by Heri Sutanta under Catatan Perjalanan

Hari Kamis, 18 Maret kemarin saya merasakan kemacetan lalu lintas yang cukup membuat kelelahan fisik dan mental. Kelelahan fisik karena masih menggunakan mobil dengan transmisi manual, sedangkan kelalahan mental karena diburu waktu untuk segera sampai di kampus. Hari itu, jam 9.00 saya harus memberikan materi di mata kuliah Land Administration. Saya diminta pembimbing saya, A/Professor Abbas Rajabifard untuk mempresentasikan materi tentang Land Administration & Governance in Post Disaster Area. Saya diminta datang jam 8.45 di ruangannya untuk selanjutnya berangkat bersama-sama ke ruang kuliah yang ada di gedung lain.

Saya sudah mengantisipasi dengan berangkat lebih awal. Jarak 5 km dari kampus biasanya bisa ditempuh dalam waktu 20 menit menggunakan mobil sendiri, atau sekitar 30 kalau naik tram. Supaya tidak terlambat saya berangkat jam 8.15. Pilihannya adalah menggunakan publik transport (tram) atau bawa mobil sendiri. Karena yakin membawa mobil sendiri akan lebih cepat, maka itulah yang saya pilih.

Perjalanan dari rumah sampai stop tram 25, yang berjarak sekitar 600 m berjalan lancar. Kemacetan baru dirasakan sesudah itu, entah apa penyebabnya. Apakah memang biasanya seperti itu atau ada kejadian lain. Saya memang tidak pernah berangkat kurang dari jam 8.45, karena setiap pagi harus mengantar Naila ke Childcare, Fahmi & Affan ke sekolah, dan istri ke tempat kerjanya. Perjalanan betul-betul sangat lambat. Mobil hanya bisa bergerak perlahan-lahan, lebih lama berhenti daripada jalan. Tetapi tidak ada pilihan pindah ke jalan yang lain. Disamping itu, kalau pindah dari Sydney rd ke Lygon st belum tentu mempercepat perjalanan. Siapa tahu malah jadi lebih lama. Akhirnya, terpaksa ‘menikmati’ kemacetan itu.

Sampai di stop tram 19 membutuhkan waktu 30 menit. Padahal ini baru separuh perjalanan. Terpaksa saya menelpon Abbas, memberitahukan bahwa saya akan langsung ke ruang kuliah yang ada di gedung lain, tidak berangkat bersama-sama. Sebetulnya menelpon sambil mengemudi dilarang di Melbourne (dan seharusnya di Indonesia). Kalau ketahuan polisi, dendanya sekitar $220. Hhmmm, yang lebih mengherankan, banya pengendara sepeda motor di Yogya yang ber-sms sambil berkendara.

Akhirnya jam 9.01 waktu jam mobil saya sampai di Grattan st. Untung ada tempat parkir yang masih kosong yang tersedia dekat gate 10 Melbourne Uni. Kalau tidak ada tempat kosong, mungkin saya harus berputar-putar mencari parkiran. Sesudah membayar parkir, segera saja saya berlari ke lantai 5 gedung Doug McDonnel. Tentu saja ke lantai 5-nya naik lift. Kelas masih belum dimulai, Abbas masih men-setting file. Ternyata giliran saya yang pertama, dilanjutkan teman saya Sheelan yang baru saja submit her PhD thesis on Seamless SDI. Tidak enak juga rasanya dengan pembimbing yang rumahnya sekitar 20 km dari kampus tetapi bisa datang lebih awal dari saya yang rumahnya hanya 5 km!

Kemacetan seperti ini jarang saya temui di Yogya. Dari rumah ke kampus, yang jaraknya 10 km, biasanya saya tempuh dalam waktu 20 menit. Itupun di saat jam sibuk pagi hari. Hanya ada 4 traffic light yang harus dilewati, bahkan bisa hanya 2 traffic light kalau lewat jalan baru utara Fakultas Teknik. Mudah-mudahan tidak terjebak macet lagi.

Sebagian besar mobil yang bersliweran di jalan-jalan Melbourne rata-rata hanya diisi oleh satu atau dua orang saja. Saat menunggu tram, saya pernah iseng-iseng menghitung berapa mobil yang berisi satu orang dan yang berisi lebih dari satu orang. Ternyata mobi yang berisi lebih dari satu orang jumlahnya hanya sekitar 5 mobil dari 25-an mobil yang saya hitung. Public transport yang sangat baik di Melbourne ternyata belum memadai untuk membuat berkurangnya mobil di jalanan. Kalau di Indonesia, transportasi umum yang kurang baik menyebabkan membengkaknya jumlah sepeda motor. Sampai kapan daya dukung lingkungan, ruang dan bahan bakar bisa menampung meningkatnya lalu lintas?

No responses yet

Next »