Dec 22 2010

Pengalaman mempersiapkan diri menghadapi tes TOEFL dan IELTS

Published by Heri Sutanta at 7:33 pm under Academic Life

Semua beasiswa, dalam dan luar negeri, saat ini mensyaratkan kemampuan berbahasa Inggris yang dinyatakan dengan nilai TOEFL atau IELTS. Tidak ada yang tidak butuh TOEFL. Bahkan sekarang ada persyaratan baru, untuk lulus S1 pun harus mampu menunjukkan bukti telah mencapai nilai TOEFL tertentu. Di UGM sendiri, calon mahasiswa baru yang lulus seleksi UM-UGM harus mengikuti tes TOEFL saat teman-teman yang belum diterima sedang mengikuti tes masuk nasional. Apa yang akan saya ceritakan berikut adalah pengalaman pribadi mempersiapkan diri menghadapi tes TOEFL dan IELTS. Mungkin tidak seperti yang dianjurkan oleh pengajar bahasa Inggris untuk penutur yang bukan asli…, tetapi paling tidak bisa sebagai gambaran.

Saya sendiri belum pernah kursus intensif bahasa Inggris, jadi hanya belajar secara otodidak saja. Saat SMA, pernah ikut kursus bahasa Inggris beberapa kali pertemuan, karena kebetulan dapat voucher kursus gratis. Nama lembaga kursusnya saya tidak ingat persis, mungkin NEC (bukan merk komputer).

Saya harus memiliki sertifikat TOEFL pertama kali adalah untuk melamar jadi dosen Geodesi UGM, tahun 1999. Baru pertama kali itulah disyaratkan adanya sertifikat TOEFL dalam penerimaan dosen di tempat saya bekerja sekarang. Untuk mendapatkan skor yang baik (paling minim 500 dalam pandangan saya), maka saya mencoba latihan sendiri di kost. Pada saat itu TOEFL yang digunakan minus speaking test, jadi hanya mengetes kemampuan bahasa Inggris pasif. Oleh karena itu, belajarnya ya cukup dengan membaca buku dan latihan soal saja. Saya beli buku latihan TOEFL dan pinjam buku latihan TOEFL dari teman saya, Budi Harto.

Saya buat semacam lembar jawaban sendiri untuk 8 latihan tes TOEFL yang ada di buku tersebut. Kemudian saya mengerjakan semua jenis tes sendirian di kamar. Waktu untuk mengerjakan saya samakan dengan tes resmi. Kalau saatnya untuk tes listening, saya setel kaset test TOEFL-nya di tape merk Sony yang saya beli 4 tahun sebelumnya. Selesai mengerjakan, saya periksa semua jawaban dan hitung skor yang saya dapat. Untuk setiap soal yang salah, saya lihat penjelasan jawaban yang benar dan kemudian mempelajari lagi di bagian teori. Demikian saya kerjakan berulang-ulang untuk 8 latihan yang tersedia di 2 buku.

Akhirnya, tibalah saatnya untuk mendaftarkan diri di sebuah lembaga kursus bahasa Inggris untuk tes prediksi TOEFL. Saya mendaftar di lembaga kursus yang ada di Jl. Wolter Monginsidi, biayanya kalau tidak 20 ribu ya 25 ribu. Tes-nya sendirian saja, ditinggal di tengah ruangan yang biasa digunakan untuk kursus. Namanya juga lembaga kursus yang bukan terkenal, fasilitasnya ya biasa saja. Sayangnya (untungnya?) materi tes ternyata berbeda dengan yang biasa saya baca..:) Di tengah-tengah mengerjakan tes listening, tiba-tiba dari rumah sebelah tempat kursus, ada suara raungan gas sepeda motor. Ternyata ada yang sedang memperbaiki motor dan menge-gas keras2… terpaksalah saya minta bagian itu diulang… lumayan, dapat tambahan waktu sedikit..:) Tes selesai, dan tinggal menunggu hasilnya. Ternyata tidak mengecewakan, skor yang saya peroleh 527 atau 537 atau 547. Saya tidak ingat persisnya berapa berawalan 5, berakhiran 7, tetapi di bawah 550 dan diatas 517.. Hasil ini saya serahkan ke Jurusan Geodesi sebagai salah satu persyaratan mendaftar dosen. Syarat lainnya adalah melampirkan surat rekomendasi dari minimal 3 dosen (saya lampirkan 7 surat rekomendasi) dan mengikuti psikotes di fakultas psikologi UGM.

Saat kedua kalinya saya membutuhkan skor TOEFL adalah ketika melamar untuk beasiswa STUNED untuk sekolah ke Belanda, tahun 2000. Kali ini sertifikat TOEFL harus berasal dari lembaga resmi yang terakreditasi. Mengingat waktu yang tersedia sangat mepet, sedangkan jadwal tes untuk Institutional TOEFL di PPB UGM sudah terlewat, saya mencoba tanya ke PPB UI. Di UI Salemba, saya harus tanya ke sana kemari untuk bisa menemukan kantornya. Ternyata waktu tes yang di PPB UI juga tidak sesuai dengan jadwal pengajuan dokumen STUNED. Disamping itu, biayanya juga lumayan mahal untuk ukuran saya saat itu, sekitar 350 ribu. Akhirnya saya memutuskan untuk untung-untungan saja mengikuti TOEFL-like tes yang diselenggarakan oleh PPB UGM. Biayanya, kalau tidak salah, 50 ribu. Seperti sebelumnya, saya melatih diri lagi dengan metode yang sama seperti sebelumnya. Menyepi di dalam kamar, mengerjakan latihan-latihan tes TOEFL. Suasana tes jauh berbeda dengan sebelumnya, sangat tenang dan teratur. Sempat grogi juga sebetulnya. Apalagi peserta tes yang lain adalah peserta kursus di PPB UGM, salah satunya senior saya di Geodesi. Hasilnya, sedikit lebih tinggi dari yang disyaratkan, yaitu 557 (minimalnya 550). Walaupun hanya memiliki sertifikat TOEFL-like test, saya nekat mengajukan semua berkas ke Netherlands Education Council. Alhamdulillah diterima. Sertifikat TOEFL ini mungkin diakui karena dikeluarkan oleh PPB UGM, disamping waktu yang mepet untuk mempersiapkan dokumen yang ‘layak’ mengingat saat itu baru pertama kali ada beasiswa STUNED. Sesudah itu, NEC (sekarang NESO) sangat ketat dalam persyaratan bahasa, minimalnya harus Institutional TOEFL tes.

Ketiga kalinya mengikuti tes TOEFL adalah ketika saya melamar beasiswa ke Jepang (yang akhirnya tidak berhasil…). Untuk memenuhi persyaratan beasiswa, skor TOEFL minimal adalah 550 yang dikeluarkan oleh lembaga yang diakui. Tes saya ikuti tahun 2006. Latihan seperti dulu saya kerjakan lagi. Tantangannya, saya sulit untuk menyepi, karena anak sudah 2 ..hehehe…Tetapi bekal saya sudah lebih baik, pernah 16 bulan tinggal di Belanda dan harus berkomunikasi dengan bahasa Inggris di kampus. Saat mengerjakan tesis, sering juga tidak berbahasa Inggris, karena dari 5 orang yang ada di ruangan MSc student, 3 orang dari Indonesia…:). Kalau di apartemen malah lebih banyak menggunakan bahasa Jawa, karena teman-teman di sana banyak yang dari atau pernah kuliah di Yogya….Satu hal yang saya sesali, saya tidak belajar bahasa Belanda atau Spanyol (banyak teman dari Latin America). Dalam hal bahasa Inggris, saya ingat bahwa ketika sudah memulai menulis tesis, saya iseng-iseng melihat lagi tugas-tugas yang saya kumpulkan di masa awal kuliah. Saya kaget, melihat betapa jeleknya bahasa Inggris saya…:-)

Untungnya para dosen sudah terbiasa dengan mahasiswa dari berbagai negara dan berbagai tingkat kemampuan bahasa…Bahkan ada beberapa pertanyaan teman kuliah dari Afrika atau Cina yang saya pahami maksudnya sesudah mendengar jawaban dosennya…”Oohh… itu to pertannyaannya”…

Kembali ke tes TOEFL yang ketiga, mengingat ini adalah Institutional TOEFL, suasana lebih menegangkan. Soal juga masih dalam kertas segel, beda dengan yang TOEFL-like. Dengan rasa percara diri yang lebih tinggi dan sikap nothing to lose, akhirnya selesailah juga tes itu. Alhamdulillah hasilnya sangat memuaskan, lebih tinggi dari yang saya perkirakan. Perkiraan awal, paling saya dapat sekitar 580-an, ternyata bisa lebih baik. Ini adalah skor TOEFL tertinggi saya. Tetapi ternyata saya tidak lolos dalam 2/3 kali melamar beasiswa ke Jepang dan 1 kali ke Amerika…:):)

Walaupun demikian, skor TOEFL ini ternyata berguna sekali ketika melamar beasiswa ADS ke Australia. ADS tidak menggunakan TOEFL, melainkan IELTS. Skor TOEFL hanya bisa digunakan sebagai salah satu syarat dokumen awal saja. Dengar-dengar minimal 500. Saya lolos dalam seleksi dokumen sehingga bisa ikut tes wawancara. Sebagai bagian dari tes wawancara, ada komponen tes IELTS, tertulis dan speaking. Itulah tes IELTS saya yang pertama, sehingga saya belum tahu modelnya. Saya tanya sama teman saya, Andi Arsana, bagaimana caranya mempersiapkan diri. Kebetulan Andi yang sedang di Australia pas pulang ke Yogya, sekalian dengan Ahmad Agus Setiawan. File mp3 untuk materi listening yang saya peroleh dari Andi sangat membantu. Saya copy ke mp3 player, sehingga dalam perjalanan ke kantor dan lainnya saya mendengarkan dan belajar menjawab pertanyaan yang ada dalam percakapan di sana. Awalnya terasa sulit, lama-lama jadi terasa mudah. Telinga saya menjadi semakin terbiasa. Untuk writing test, dari 2 persoalan yang diberikan, saya malah merasa kesulitan di bagian pertama (yang katanya lebih mudah) dan merasa mudah di bagian kedua. Akhirnya, keluar hasil tes wawancara dan skor IELTS. Saya diterima beasiswa ADS dan mendapatkan skor IELTS 6,5 dan tidak ada komponen yang di bawah 6.

Skor ini cukup pas, artinya hanya perlu mengikuti IAP selama 6 minggu di Jakarta, tidak perlu tes IELTS lagi, dan kebetulan School of Engineering, Uni Melbourne juga mensyaratkan IELTS minimal 6,5. Berdasarkan berbagai informasi, untuk menaikkan skor IELTS sebesar 0,5 dibutuhkan waktu kursus 3 bulan.

Dari pengalaman mengikuti tes TEOFL 3 kali dan tes IELTS 1 kali, saya merasakan bahwa latihan dan disiplin dalam belajar adalah hal yang penting. Selanjutnya, membiasakan diri dengan berbagai bentuk tes. Untuk bagian listening, mendengarkan kaset-kaset rekaman TOEFL dan IELTS sangat membantu. Untuk bagian writing, ya harus mau menggerakkan tangan & ballpoint untuk menulis. Dalam tes IELTS resmi, digunakan pensil, sehingga masih bisa melakukan sedikit “undo” alias “Ctrl+Z” kalau dirasa ada kesalahan tulis kecil. Dalam latihan mengerjakan soal, disiplin terhadap waktu adalah penting. Skor rendah di awal adalah biasa.

Dari pengalaman saya, semakin banyak berlatih akan semakin baik. Di samping itu, berada di lingkungan yang berbahasa Inggris akan sangat membantu perkembangan kemampuan mendengar, berbicara dan menulis; bukan sekedar grammar saja.

*disclaimer: ini adalah pengalaman pribadi, setiap orang punya metode belajar yang paling efektif untuk dirinya sendiri …:D

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply